Hello Awesome Person!

You'll not find anything useful here. Consider this a fair warning.

Showing posts with label wishes. Show all posts
Showing posts with label wishes. Show all posts

Saturday, March 31, 2012

Fashion Liberty

Setelah membaca postingan Nyai Dachimah mengenai selera berpakaian, hmm, rasanya gue juga perlu melakukan observasi diri.

Masa kuliah dahulu sewaktu memakai kaos, celana pendek, sandal jepit, dan tas ransel, seorang bapak bertanya pada gue, "Sekolah dimana, dek?" Anehnya di waktu berikutnya gue pakai cardigan berbentuk gahul malah ditanya kerja dimana, padahal lulus kuliah juga belum.

Masa kerja saat kini memakai sandal bertali milik kakak gue, seseorang yang disegani (oleh semua orang kecuali gue dan sebut-saja-Njum) di kantor berkomentar, "Kamu mau ngantor apa ngampus? Masa pake sendal."

Masa jalan di akhir minggu bersama pria-yang-tidak-suka-disebut-sebagai-Om-karena-terkesan-tua memakai sweater, rok, dan sepatu, hanya diliatin dan dikatain, "Kaya anak sekolahan." Terakhir kali gue pakai kaos, jeans, sandal, dan tas berbentuk kucing semakin dikatain nampak seperti anak SMP.

Jadi kepada saudari Dheyzhere yang berbakat di bidang fashion dan menggeluti bidang ini, mohon memberi training fashion khusus kepada gue dan Nyai Dachimah.

Monday, December 12, 2011

Gratitude

"Unfortunately, for me being grateful means swallowing my pride down the throat."

Ceritanya, gue dikatain tidak bersyukur karena tidak mau mengambil permen karamel meski diberikan secara gratis.
Beberapa bulan terakhir gue selalu ditawarkan permen karamel ini tapi selalu gue tolak; penyebabnya ya karena gue kurang begitu suka permen karamel.
No matter how tempting it is, you won't say you'll take it if you not really love sweets.


On side note, I'm always more of a chocolate junkies than sweet tooth.
Though arguably I won't even taste a bar of chocolate since it's far within my reach.

Friday, September 02, 2011

About a B

Aoi: Whenever Ruki says to me, "Let's go clothes shopping", I always say "Yeah, let's go", but if I invite him he'll never go.
Ruki:
(laugh) That's just a characteristic of B blood types. If I'm not interested in something, then I'm not interested. And I won't invite people. When I went with Reita it was a chance to do my own shopping as well, so I went.
 Reita:
I mailed him saying, "Do you want to go shopping?", but he didn't reply. Then he called me and was like, "Come pick me up".

Credit to astraphile: Neo Genesis Vol. 33 Gazette Interview



Eh~
I suppose it's not a trait of blood types characteristic? 
Well, knowing I'm not yet check for my blood type (and others stubbornly saying I'm definitely a B blood type) and grudgingly what Ruki said is applied for me.

Is it a real B blood type thing or just coincidence?  

Saturday, December 18, 2010

Stoicism

Gue suka kesal dengan wajah gue.
Bukan, bukan karena merasa wajah gue seperti Emma Watson, tapi karena wajah gue tidak ada ekspresinya (seperti diucapkan oleh orang-orang sekitar).

Lagi senang, dikira biasa saja.
Lagi biasa, dikira ngantuk.
Lagi ngantuk, dikira lagi kesal.
Lagi kesal, dikira... I don't know, mungkin... Iblis?

Yah, sebenarnya bukan "tidak berekspresi", tapi "tidak jelas ekspresinya".

Jadi kesal gara-gara gue harus menjelaskan dengan kata-kata (komunikasi verbal) apa yang sedang gue rasakan, bukannya melalui bahasa tubuh (komunikasi non-verbal).
Anehnya, di buku yang gue baca, komunikasi non-verbal dipakai 70% dalam kehidupan sehari-hari.
Mungkin ini tidak berlaku bagi gue.

Tapi ternyata, kekesalan gue semakin berkurang setelah beberapa tahun.
Karena ternyata "tidak jelas ekspresinya" ini sangat berguna dalam hal-hal tertentu.
Terutama untuk menipu dan memanipulasi orang lain, ha ha.

  1. Gue versi mini bisa tertawa sampai berguling-guling tanpa ketahuan dunia luar karena kelakuan aneh orang lain (karena gue belum berminat dituduh gila).
  2. Gue versi mini bisa mengutuk orang lain yang melanggar apa pun yang dianggap sebagai hak gue (karena gue belum berminat dituduh psikopat atau jadi pembunuh).
  3. Gue versi mini bisa teriak-teriak panik sementara bersikap "tenang" ketika menghadapi hal-hal yang diluar zona aman gue (karena gue belum berminat dituduh membuat orang lain kehilangan indera pendengaran).
  4. Gue versi mini bisa menghina orang lain dengan puas hanya karena gue ingin (karena gue belum berminat dituduh sebagai anggota masyarakat yang tidak punya sopan santun).
  5. Dan gue bisa dengan tenang membohongi orang lain jika gue bener-bener punya alasan dan benar-benar berniat mengeluarkan tenaga untuk melakukannya, right in their faces
Jadi gue seharusnya bersyukur punya wajah "tidak jelas ekspresinya", dan bukannya kesal.

Thursday, November 04, 2010

Cooking Cooking Cooking

Art by : Yusuke Nakamura 


Ada sesuatu yang salah antara dapur dan gue.
Dimulai dari ketakutan masa kecil terhadap minyak panas yang suka muncrat-muncrat, hingga kemalasan tingkat tinggi untuk mencuci peralatan makan (selalu berupaya makan pake sumpit atau sendok plastik sekali pakai langsung buang).

Dalam suatu kesempatan di masa lalu, gue mengundang seorang teman untuk main ke rumah.
Alasan sebenarnya, tentu saja minta dia buat gorengin ayam berbumbu supaya gue bisa makan sore (seperti biasa gue sendirian di rumah jadi tidak ada yang masak).
Ya, gue SEGITU takutnya sama semburan minyak panas.
Terkena minyak panas adalah pengalaman yang gue harap TIDAK AKAN PERNAH gue rasakan lagi sejak kecil.

Kembalinya gue ke dapur untuk pertama kali ditandai dengan upaya membuat puding karamel untuk seorang teman di semester yang lalu.
Puding karamel dibuat tanpa semburan minyak panas dan sepertinya cukup mudah.
Hasilnya gagal total.
Karena resep yang gue pakai ternyata salah dan meski tidak ada semburan minyak, ada lelehan gula panas SUPER lengket yang lebih menyeramkan waktu kena tangan.
Benar-benar ada yang salah antara dapur dan gue.

Sekarang gue ingin kembali menguji coba hubungan antara kami untuk kedua kalinya.
Gue bertekad akan mencoba memasak masakan beneran (bukan mie instan atau masakan lain yang memakai oven).
Kalau kali ini masih gagal juga...
Well, masih ada kali ketiga.

Thursday, July 22, 2010

INCEPTION

Lagi-lagi gue berbohong.
Kali ini gue bohong dengan judul postingan ini.
Soalnya yang mau gue bahas itu film yang cuma tayang di Blitz tapi sepertinya tidak ada yang tau...

EVANGELION: 2.0 YOU CAN (NOT) ADVANCE.

Pertama gue liat film ini ada di jadwal Blitz, gue nyiapin budget nonton meski harusnya gue sadar diri dengan kondisi keuangan yang makin terancam.
Tapi otak gue langsung berpikir, "Ah, salah satu momen kebebasan finansial gue akan segera berlangsung tidak lama lagi, jadi ga masalah sesekali membahagiakan diri!"
Ada yang tau momen apakah itu?

Momen kebebasan finansial gue hanya terjadi dua kali dalam satu tahun, Lebaran dan hari ulang tahun.
Tapi menjelang tahun-tahun akhir ini, momen yang disebut kedua menunjukkan tanda-tanda signifikan untuk gugur menjalankan tugasnya.
Haduh, haduh.

Oke, balik lagi ke topik utama yaitu film-film un-heard of...

Tiba-tiba salah seorang teman sms nanya apa gue mau nonton bareng Evangelion?
Haha, ternyata dia juga heboh mau nonton.
Berhubung dia sibuk akhirnya jadwal muncur 3 hari sejak Evangelion tayang di Blitz.
Tadinya sih gue cemas ga dapet tiket lagi, mirip beberapa tahun lalu waktu mau nonton EVANGELION: 1.0 YOU ARE (NOT) ALONE pas festival film di Blitz juga.
Dan kita nyaris terlambat (efek macet di tempat tidur a.k.a. bangun kesorean), buru-buru masuk, ternyata yang nonton cuma kami berdua.
Sayang temen gue bukan pacar, kalau orang pacaran di gedung bioskop gelap-gelap satu studio cuma berdua pula entah apa yang akan terjadi.
Fu fu fu

Jujur aja gue shock dengan respon anak muda Indonesia.

Film yang sejujurnya busuk dan tidak bermutu ditonton rame-rame.
Film yang beneran bagus dan berkualitas rame juga, tapi rame sama orang mengeluh ngantuk, bosan, atau marah-marah karena pada berisik di dalam studio bioskop (yang ini biasanya pengamat film).
Film yang un-heard of cuma jadi pajangan, tayang sebentar, waktu ga laku langsung dicabut ganti film lain.

Buktinya adalah film India, 3 Idiots, yang awal tayang ga laku terus dicabut.
Setelah jadi 'tren' baru pada nyariin film ini dan muji-muji film ini.
Bioskop juga langsung memperpanjang masa tayang film-film ini.
Well, gue sih masih belum minat nonton film India jadi belum nonton dan belum berhak berpandangan subjektif terhadap film ini.

Dulu rasanya Blitz masih rajin menayangkan film-film festival, film-film yang bukan 'box office' tapi umumnya lebih berkualitas.
Tapi sekarang?
Ada sih beberapa, tapi ya gitu.
Yang festival berkualitas jarang-jarang.
Rata-rata malah sebentar masa tayangnya.
Hey, dikira orang setiap hari bisa langsung datang ke bioskop beli tiket mahal?

Gue benar-benar berharap orang-orang yang suka menghabiskan uang ke bioskop untuk nonton film-film un-heard of ini.
Kan kalau responnya positif siapa tau bioskop Soe-Dwi-Mono mau muter yang festival-festival juga jadi gue bisa nonton dengan harga lebih murah dan bahagia.
Ingat, membahagiakan orang itu mendapat pahala lho?!

Salah satu buktinya ya film Hurt Locker.
Film yang DVD bajakannya sudah kualitas ori (tingkatan paling tinggi) sama sekali tidak diputar di sini.
Setelah masuk nominasi Oscar dan dapat penghargaan baru diputer di bioskop.
Mental komersial.

I know, I know, I should not stressing myself over nontrivial things like this.
But it irks me!

Apalagi kalau tentang hal-hal yang gue sukai.

Evangelion itu gabungan dari beberapa hal yang sangat gue sukai.
Film (Anime berkualitas), mecha (terutama tipe Eva 01), dan musik (lagu ending-nya salah satu lagu yang gue suka dari Utada Hikaru).
Tuh kan, hit-hit combo jadinya.

Monday, July 12, 2010

I Know You Better Than You Know Yourself

Judulnya tidak ada hubungannya sama isi tulisan ini kok.
Memang gue yang suka semena-mena aja.

Berhubung yang sebelumnya lupa mau ngetik apa, gue lanjut dengan tulisan yang lain dulu!

Tadi setelah membuka blog milik anak-gila-dan-suka-cengengesan-sendiri-plus-OCD-pula, gue teringat salah satu hal yang gue baca dari buku.
Lupa tulisan tepatnya gimana, yang jelas dibilang,

"Kebahagiaan itu menular. Saat anda berada bersama dengan orang-orang yang bahagia, anda akan turut merasakan kebahagiaan. Itulah sebabnya anda akan terkadang akan lebih senang saat bersama dengan orang yang tidak anda kenal. Karena orang itu menularkan kebahagiaannya pada anda."

Panjang juga ternyata.

Hebat juga gue masih setengah ingat sama tulisan itu.
Haha, minta ditampar.

Mungkin ada benarnya tulisan di buku itu.

Gue selalu heran setelah pergi ke stasiun tebet dimana ada petugas super aneh yang suka merasa gue itu temen dia.
Dasar orang gila.
Tau nama gue juga tidak.
Dan dia tidak berniat nge-lawak, apalagi gangguin gue.
Tapi gue selalu ketawa kalau ingat dengan keanehan orang ini.

Atau waktu itu pernah gue keluar dari sebuah parkiran gedung.
Waktu bayar parkir, petugasnya bilang, "Tagihannya 4 juta!"
Jelas-jelas tagihannya 4 ribu.
Akhirnya bayarnya dengan uang 10 ribu.
Terus dia bilang lagi, "Oke, uangnya 10 juta. Ini kembaliannya 6 juta."
Dan dia dari awal ngomong dengan muka datar bukan muka mau nge-lawak, ketawa pun tidak.
Padahal gue dari awal udah ketawa.

Mungkin benar, kebahagiaan itu menular sehingga kita terkadang merasa tidak masalah waktu terjebak dalam lingkungan yang tidak kita kenal.

Tapi gue juga menghasilkan hipotesis baru setelah membaca buku itu.

"Ketidakbahagiaan juga menular. Saat bahagia, kita akan menjauhi orang-orang yang tidak bahagia. Karena kita tidak mau kebahagiaan kita diserap oleh orang itu sehingga berkurang kebahagiaannya."

Menjauh, menjauh, awas dia lagi bad mood.
Nanti bisa-bisa ikut bad mood karena 'terpaksa' mendengar cerita dia.

Berarti lebih baik tidak punya teman?

Soalnya kalau punya teman pasti akan ada saat dimana dia terkena bad mood sehingga gue ikut terkena bad mood?
Padahal, katanya, kalau tidak berbagi duka, berarti bukan teman yang baik.
Hm... tapi gue selalu menghindar dari orang-orang yang mau 'berbagi' duka.

Haha, ternyata gue memang tidak pernah menjadi teman yang baik.

Monday, March 29, 2010

Lie To Me

I always thought knowing someone else's behavior is not hard.
Reasoning other's action somehow become easy for me.
I know why he did that.
I know what she's going to do.

Yet understanding that is hard.

No matter how right I am about the reason behind people's action, I just can't seem to understand it.

Why did they do that?

Why?

I don't know.

I can't know.

And maybe I don't need to know.

Because, behind every betrayal that happens to me, there's the truth.
The truth is never echoes in the same length as happiness.
That's why sometimes things are better leave behind.

I'm happy to not know the truth.

Sunday, January 31, 2010

Criminal Minds

Sebelum memulai kembali aktivitas kuliah seperti biasa besok hari, gue mau puas-puasin diri ber-internet!
Minggu ini pun gue memilih untuk ditinggal sendirian di rumah daripada makan gratis di pesta undangan orang.
Selama libur pun hubungan sosial yang gue lakukan dengan orang-orang hanya untuk berbagi informasi-informasi (tidak) penting.
Misalnya, Gackt menyumbang suara buat Vocaloid, TOP Big Bang adalah orang bodoh (in good way), Arashi menguasai Jepang, dan sebagainya.

Memang hanya internet-lah yang mampu menyatukan para himono onna.

Berkat info tentang Gackt inilah gue jadi tau apa Vocaloid itu.
Dulu gue kira Vocaloid itu nama anime gara-gara gue sering lihat gambar Hatsune Miku (salah satu 'tokoh' Vocaloid) di situs-situs otaku.

Ternyata, man, Vocaloid itu nama program komputer!


source : wikipedia

Semakin ketahuan betapa bodohnya gue.


Jadi gue akhirnya tau, Vocaloid itu semacam program yang bisa membuat tiruan suara manusia.
Ada beberapa 'tokoh' yang masing-masing punya tipe suara dan rentang nada yang berbeda-beda.
Terus, katanya, tinggal nulis teks lagu plus milih nada, 'tokoh' ini bisa bernyanyi.
Bisa dibilang semacam penyanyi idola masa depan.
Beberapa lagu yang dinyanyikan oleh Vocaloid menurut gue seperti benar-benar dinyanyikan manusia.
Suara Kamui Gakupo, 'tokoh' yang suaranya diambil dari Gackt, lumayan mirip seperti aslinya.

Melihat perkembangan teknologi yang semakin menggila, yang gue pikirkan bukan manfaatnya bagi industri komersil misalnya Vocaloid untuk menggantikan penyanyi beneran waktu rekaman supaya bebas dari suara fals.
Yang pertama terpikir di otak gue adalah, jeng jeng jeng, bisa untuk tindak kejahatan nih!

Fu fu fu, dengan menirukan suara orang, gue bisa menjebak manusia-manusia lainnya misalnya dengan tuduhan konspirasi atau kriminalitas lainnya.
Terus suara rekaman hasil Vocaloid tadi buat barang buktinya.

Gue bisa menjebak Bill Gates buat mengakui bahwa gue adalah anak angkatnya.

Buat para fangirls juga bisa membuat rekaman palsu yang isinya suara artis idola masing-masing bilang, "xxx" dan "xxx"
(bayangkan sendiri apa kata-katanya)

Sekarang gue mengerti kenapa penyanyi-penyanyi yang dimintai developer Vocaloid sebagai pengisi suara 'tokoh' tidak mau sepenuhnya 'diambil' suaranya.

Wednesday, December 09, 2009

J'Adore

Sebentar lagi akhir tahun 2009, berarti sebentar lagi awal tahun 2010.
Katanya, setiap awal tahun semua orang (padahal tidak semua) membuat Resolusi Awal Tahun.
Ada sih yang berhasil memenuhi daftar resolusi itu, meski banyak juga yang gagal.

Gue termasuk yang berhasil.

Berhasil tidak pernah membuat daftar resolusi maksudnya.
Malas membuat sih...
Tapi sekarang gue ingin mencoba buat demi kehidupan masa depan yang lebih ceria (?)

Let's begin!

1. Saya berjanji, akan mengumpulkan uang demi jalan-jalan.
Harus hemat...Agh! Sial.

2. Saya berjanji, tidak akan pergi ke Glodok minimal hingga tengah tahun.
Yup, Glodok adalah salah satu penyebab utama uang di tabungan tidak berkembang biak dengan baik.

3. Saya berjanji, berusaha semaksimal mungkin tidak membeli barang-barang aneh.
Kenapa harus ada barang yang 'beda' sih?

Benar-benar, internet membuat gue miskin.
Memesan barang online...

Coba lihat sepatu Nat-2 di bawah ini :

































Dan sandal Vivienne Westwood + Melissa di bawah ini :












Apa ada yang berminat untuk membelikan?

Wednesday, November 04, 2009

Life is a Matter of Choice (?)

Kata orang-orang, hidup adalah pilihan.
Memang kita berhak memilih jalan kehidupan kita, tapi bukan berarti tanpa 'tekanan'.
Berikut kutipan percakapan yang berlangsung beberapa pekan sebelumnya.

A : Apa kabarnya si B ?
Gue : Gue jarang ketemu B akhir-akhir ini.
A : Dia jurusan apa sih ? Gue lupa.
Gue : Sastra.
A : Sastra ? Ngapain dia ngambil itu ? Kerja apaan dia entar ?

Oh, man.

Gue nggak ngerti lagi kenapa masih ada orang yang punya pemikiran macam ini.
Jangankan sastra, orang-orang yang mendengar program studi yang gue ambil pun turut bertanya,

"Ngapain ambil itu ? Program studi ga jelas gitu. Mau jadi apa ?"

Setau gue, semua pengetahuan itu bagus.
Bahkan hal remeh seperti siapa ketua rt rumah masing-masing adalah pengetahuan.
Jadi, apakah jurusan dan program studi tidak 'populer' berarti tidak penting?

Apa sebegitu pentingnya akan jadi apa kita di masa depan ?
Apa hanya orang yang kaya, terkenal, berkuasa, dihormati atau ditakuti yang termasuk orang-orang 'berhasil' dalam hidup ?
Apa kalau gue bermasa depan 'tidak jelas' dan melarat berarti gue termasuk orang-orang tidak 'berhasil' ?

Oke, gue tidak munafik dengan bilang gue tidak perlu kekayaan.
Mungkin secara tidak langsung memang perlu.
Maksudnya, yang gue ingin dalam hidup hanya bersenang-senang (atau lebih tepatnya bersantai-santai).
Dan untuk bersenang-senang (bersantai-santai a.k.a. tidur selama yang gue mau) perlu uang bukan ?

Tapi apa iya jika kita memilih 'jalan' yang tidak akan dipilih orang intelek artinya kita orang bodoh ?
Mungkin memang bodoh karena tidak memilih yang 'terbaik', tapi setidaknya kita memilih yang 'terpenting'.

Gue juga pernah mendengar sebuah cerita tentang cewek yang pintar, kaya, dan cantik, tapi dia memilih kawin lari dengan cowok tidak lulus sekolah, tidak punya pekerjaan tetap, dan tidak ganteng pula.
Pendapat sahabat-sahabat si cewek adalah,

"Kok dia mau sih sama si itu yang blah-blah-blah. Bego ya ?!"
Mereka komentar seperti ini tapi masih bisa menganggap diri sahabatnya si cewek ?

Mungkin dia 'bodoh', tapi dia paham apa yang 'penting' bagi dirinya, yaitu bahagia (meski, mungkin, semu).
Setiap orang memiliki pandangan berbeda akan apa yang dianggap 'penting' bagi dirinya, jadi kenapa manusia harus saling menghakimi ?

Dan gue juga tidak munafik dengan mengatakan gue tidak pernah menghakimi orang.
Setidaknya gue menghakimi orang dan gue simpan dalam diri.
Oke, pengakuan dosa, kadang (atau sering ?) gue memberi tau orang lain isi komentar gue.
Tapi gue sering (atau kadang ?) merasa bersalah kok setelah memberi tau komentar-komentar itu ke orang lain !

Hahahahahah.

Silly me.
Being all this and that but in the end it's another hypocritical state of me.
Don't worry though, I'll stop this annoying series of rhetorical question, now.

Thursday, August 27, 2009

Home is Hell

Gue pusing dengan orang-orang di rumah.
Perilaku mereka semakin aneh dan jadinya membuat gue semakin ingin keluar rumah.

Berikut beberapa cuplikan kegiatan orang di rumah gue.

1. Kakak cowok
Sewaktu gue di kamar bermain laptop, pintu kamar gue biarkan terbuka. Tiba-tiba gue merasa ada pergerakan aneh dalam penglihatan gue. Begitu gue liat ternyata kakak gue tersebut sedang MERAYAP masuk kamar gue, berasa lagi di medan perang, terus begitu dia tau gue sudah sadar akan keberadaannya, dia menembakkan pistol khayalan dia kearah gue. Sinting.

2. Bokap
Tanpa ada peringatan apa-apa sewaktu gue sedang membuka pintu kulkas, dia lewat begitu saja tanpa rasa bersalah jedotin kepala gue ke lemari di sebelah kulkas. MAN!

3. Nyokap
Gue memakan es krim yang tidak jelas kepemilikannya di kulkas rumah gue. Setelah selesai makan, nyokap yang baru saja pulang dari kegiatan luar rumah berkata, "Oiya, Ibu kan masih punya es krim!" Karena gue baik, gue menjelaskan ke dia, "Oiya, es krimnya sudah ada di perutku!" Dan dia terdiam. Tanpa peringatan tiba-tiba dia beberapa kali meluncurkan tinjunya ke muka gue (yang dengan ahli berhasil gue hindari semuanya).

Ini rumah penuh kekerasan!

Itulah sebabnya gue suka ditinggal sendirian di rumah.
Seandainya gue jago gambar, pasti gue bisa bikin komik dari kegiatan orang-orang tidak wajar ini.

Tuesday, July 21, 2009

Made a Mistake ... TWICE!

OMFG!

First.

Kisah ini bermula ketika dalam suatu siang yang panas gue dipaksa menemani nyokap ke pasar Senen mencari alat untuk mem ... hm, sebentar.
Untuk apa gue menjelaskan apa yang ingin nyokap cari di pasar ya?

Okeh, lanjut.

Jadi dalam perjalanan, nyokap mengkritik hidup gue yang MINIM kisah asmara (dan dilanjutkan dengan monolog nyokap mengenai kejayaan masa mudanya yang penuh kisah asmara).
Dan gue tidak terima!
Akhirnya setelah perdebatan sengit tidak sengaja gue nyeletuk,
"Liat aja, nanti awal semester lima minimal selama seminggu gue akan menjadi wanita feminim lemah lembut dan pendiam!"
Setelah suasana hening sejenak, nyokap mengeluarkan tawa piciknya (seperti yang biasa gue lakukan saat punya pikiran jahat atau ingin menipu orang lain).
"Ok, kalau begitu mulai tahun ajaran baru kamu harus berubah."

Second.

Kesalahan berikutnya gue lakukan dengan mengatakan,
"Iya."
Meskipun muka gue tidak sepakat dengan kata-kata gue.
Kenapa gue harus dilahirkan dengan ego cukup besar dan jiwa penjudi sih?!

Sekarang gue hanya bisa berharap Tuhan sudah mau memaafkan gue sehingga doa gue dikabulkan, yaitu 'semoga nyokap sudah terlalu pikun untuk mengingat percakapan yang berlangsung sore hari ini'

Monday, May 04, 2009

Untitled

There's so much thought in my mind
Sometimes I feel it took my lifetime to talk about it.

Whether it's important, or not, my mind preoccupied with that.

Can't I just rub it off back to my guts?
Ugh, how I hate myself I can't bear it anymore.

It's not about life.
It's not about love.
It's definitely not about lame.

It's just about me.
It's just about ego.
It's definitely just about maybe.

Mother, can you kill me?
I want to turn into nothingness.





It's better to burn out then fade away.

Thursday, April 16, 2009

Chara

Ada hal yang baru gue sadari setelah minggu ini tidak sengaja melihat salah satu film bioskop Indonesia yang ditayangkan di stasiun tv swasta.

Judul filmnya... apa ya?
Tidak tau.
Yang jelas stereotype film bioskop Indonesia.
Tentang percintaan.
Dan yang menjadi perhatian utama gue dalam film tersebut adalah karakter tokoh utamanya.

Entah kenapa gue merasa semua tokoh cewek yang ada dalam film percintaan remaja (anak-anak) bioskop Indonesia selalu memiliki karakteristik yang sama.
Manja.
Centil.
Banyak maunya.
Ngeselin.

Lebih anehnya lagi, tokoh utama cewek seperti itu yang selalu disukai oleh para tokoh utama cowok.

Lalu karakter tokoh utama cowoknya juga selalu sama.
Sok cool.
Berasa kegantengan.
Jutek.
Tapi (ceritanya) sebenarnya baik.

Dan tokoh utama cowok semacam ini yang ceritanya selalu menjadi tokoh idaman pujaan semua cewek.

Bener-bener TIDAK waras itu yang buat ceritanya.

Sebenarnya lagi tidak mood untuk menjelaskan panjang lebar kenapa gue merasa hal ini tidak waras. Tapi kalau gitu, buat apa gue nge-posting hal ini?

Monday, March 30, 2009

The Word

Stop thinking that you understand me!
Know what I feel, what I think!
We are different.
And you know what, I don't even try to be like you.

Stop asking me what I want!
Every time I ask, you don't even consider it.
That's why I stop telling anyone what I really want.
It's unnecessary.
It's useless.

Just stop it!
I hate it!
I beg you.
Please.


Note :
Kenapa grammar gue buruk banget ya? Tuhan, tolonglah gue sehingga gue bisa menyumpah dalam bahasa inggris dengan baik dan benar!

Monday, March 23, 2009

What's In A Name?

TK.
Well, berhubung temen gue bisa dihitung dengan jari (dan tidak mencapai jari-jari di kaki pula), jadi gue tidak ingat mereka biasa memanggil gue apa.

SD.
Hampir sama dengan masa TK, yaitu masa dimana gue tetap tidak mempunyai banyak teman sehingga gue tetep lupa mereka biasa memanggil gue apa.

SMP.
Awal mula mendapat nama 'dechu' untuk membedakan gue dari dhea lainnya.
Tidak ada artinya.
Tapi sekarang gue tau arti nama tersebut, yaitu 'fallen' (French).

SMA.
Kebrengsekan temen-temen SMA tampak dengan memberi arti pada nama 'dechu' yaitu 'dhea cuacat'.

UNIV.
Gue tidak bisa lagi berharap ada yang ingat nama panggilan asli gue.
Karena meski awal perkenalan gue memberi nama panggilan asli, tetep aja semua kembali ke nama panggilan tidak resmi tersebut.

Nama panggilan gue sebenarnya adalah 'dhea'.
Sedangkan nama panjang gue bisa memiliki arti 'dewi kesetiaan'.

Tapi last name gue, 'devy', bisa juga memiliki arti 'DEVIL'.

Saturday, March 14, 2009

Troublesome


Pertanyaan-pertanyaan yang selalu muncul dan akan selalu menjengkelkan :
-Hobi?
-Cita-cita?
-Makanan favorit?
-Motto?

Semenjak pertanyaan ini pertama kali gue dengar,
gue langsung berpikir, "I'm so freaking hate it"
Alasannya?

Hobi.
Hobi itu kan artinya kegiatan yang paling anda sukai, paling sering dilakukan sesuai dengan anjuran dokter,
jadi pastinya banyak bukan?
Misalnya tidur dan makan.
Tapi nyebelinnya, kalo jawabnya tidur atau makan, pasti diprotes.

"Itu kan bukan hobi!?"

Ah, cerewet.
Masih bagus gue mau jawab.

Cita-cita.
Dulu gue, seperti kebanyakan anak kecil lainnya yang di-brainwash, akan menjawab 'Dokter' atau 'Insinyur' atau 'Pilot' atau lain sebagainya.
Tapi semakin lama gue semakin sadar, gue tidak punya cita-cita.

Sempat terpikir mau jadi ahli desain interior, dengan alasan ingin mendekor rumah sendiri nantinya.
Dan cita-cita itu hilang digantikan ingin jadi ahli desain grafis.
Itu juga hilang karena setelah dipikir-pikir tidak mau hidup gue habis hanya dengan menggambar (di FSRD).
Akhirnya gue 'terjebak' dalam kuliah yang gue ambil.

Sekarang, gue benar-benar tidak punya tujuan dan cita-cita.
Mungkin cuma 'hanyut seperti ubur-ubur di lautan' (maksudnya 'go with the flow' versi ekstrim) yang bisa dibilang cita-cita gue saat ini.

Makanan favorit.
MANA ADA MAKANAN YANG DIJADIKAN FAVORIT?!
Gue suka semua makanan meski gue suka milih-milih makanan.
Kalau gue pernah makan, misalnya soto, yang enak, gue tidak akan mau makan soto selain itu.
Kecuali terpaksa (dan gratis tentu saja).
Jadi mana bisa gue memilih salah satu jenis makanan untuk dijadikan favorit?!
Dan sebenernya TIDAK PENTING juga untuk mem-favorit-kan salah satu jenis makanan.
Eh, sebenernya TIDAK PENTING juga bagi gue untuk kesel dengan hal ini.

Motto.
Ini beneran pertanyaan paling menyebalkan, merepotkan, dan minta ditampar di seluruh dunia!
Hidup kenapa mesti ada motto?
Waktu awal masuk universitas gue pernah diminta menyebutkan motto ketika di kelas.
Dan otak gue yang tidak mampu berpikir satu motto pun cuma bisa menjawab,

"Apa yang bisa dikerjakan esok...kerjakan saja esok hari."

A.k.a. pemalas.
Hasilnya gue ditertawakan satu kelas (mulai merasa dipermalukan).
Setelah gue pikir-pikir harusnya gue menjawab,

"Hiduplah tanpa motto hidup."

Dan sekarang gue mulai berpikir untuk membenci MANUSIA yang pertama kali dengan 'jenius'-nya menciptakan pertanyaan ini.

Thursday, January 08, 2009

Try A Little Tenderness

Ternyata memang benar.

Kegantengan seseorang tidak bergantung pada wajahnya.
Karena hari ini gue telah membuktikannya sendiri!

Ada satu jenis roti yang gue suka, namanya HAMTARO.

Waktu gue mau beli roti ini, ternyata tidak ada, a.k.a. habis!

Shit.

Tadinya gue mau nyerah dan pulang aja.
Tapi tiba-tiba muncul si koki entah dari mana *ya jelas dari dapur lah!*
Kokinya masih muda gitu, dua puluhan kayanya.
Dengan memberanikan diri segera gue bertanya pada dia,

Gue : "Hamtaro-nya ga ada ya?"

Dia : [melihat rak roti] "Hm, kalo mau gue buatin dulu. Lima menit."


Gue : [memandang dengan mata berkaca-kaca hanya mengangguk]


Dia : "Sebentar ya." [pergi menuju dapur pembuatan roti]


Baik banget!
Sebenernya dilihat sama orang lain ini orang memang lumayan ganteng, tapi gue merasa biasa aja.
Entah kenapa gue selalu merasa seganteng apapun orang, kalo gue belum tau kepribadiannya gimana, gue akan merasa dia biasa aja.
Dan ini yang menyebabkan gue merasa dia ganteng...

Dia : [lima menit kemudian datang membawa satu nampan Hamtaro]

Gue : [ingin mengambil Hamtaro yang ada di tengah]


Dia : "Yang ini aja." [menunjuk Hamtaro di pinggir]


Gue : "Eh?"


Dia : "Yang ini. Sini gue aja yang ambilin?!"


Gue : [muka bingung] "Oh ok. Yang paling besar aja pokoknya!"


Dia : [meletakkan Hamtaro pilihan dia di nampan yang gue pegang]


Gila, gila, gila,
Ganteng banget ini orang!
Penyebab kegantengan dia adalah begitu gue memakan Hamtaro tersebut, ternyata saudara-saudara, bagian isi Hamtaro tersebut lebih banyak daripada biasanya!

Kya!

Okeh, sekarang gue memutuskan, resolusi gue tahun ini adalah :
Makan Hamtaro minimal sekali sebulan!
*ga nyambung oy!*

Thursday, January 01, 2009

A Good Year (?)

Hm...

Resolution for this year?
Cih, I don't have one.
And don't want to think about it either!

About last year...

I don't know whether it's good or bad year.
Because just like a soldier that learn to control their emotion, I do, learn that way too.
I NEVER let anything makes me feel excited.
Excited to the happy extent, or even excited to the down extent too.

But at least I end up one of my curiosity on New Year's Eve.

Which is...

In a glass of 'Black Russian'















I like the warm feeling after sip it a little.
But it tasted like cough syrup, and I hate it.
I got one answer for my curiosity at least.